Gema
takbir bergemuruh, tanda suka cita umat Islam yang menyelesaikan ibadah puasa,
kemenangan di depan mata esok hari, Hari Raya. Ini yang seharusnya dirasakan
umat Islam seluruh dunia. Pemandangan berbeda aku jumpai ketika tanah
kelahiranku harus terkena kepungan asap, tepat pukul 22.00 kulihat segaris
merah menjalar berkijap-kijap di kaki bukit Junjung Sirih tepian danau Singkarak
kabupaten Solok, Sumatra Barat, “ rimbo
tapanggang, rimbo tapanggang” seru seorang gaek yang turun gunung menyuarakan pada penduduk kampung untuk
waspada. Malam takbiran kami bukannya berkumpul bersama merasakan kengahatan
keluarga tapi merasakan kengahatan memadamkamkan api yang kian memanas agar
tidak mengenai pemukiman warga. Sudah satu bulan tidak hujan angin berhembus
pun sama kuatnya menyebabkan api kian cepat menjalar, membakar punggung bukit
danau Singkarak. Dari tengah kota Solok pun nampak. Tak ku lihat adanya upanya
dari pasukan pemadam kebakaran menangani hal tersebut seakan sudah biasa
terjadi,
Ini
ceritaku sang anak rantau yang baru tiba di kampung halaman tapi harus melihat
pemandangan pilu rimba ku terbakar. Ekosistem besar begabagi jenis pohon dari
kayu ulin yang terkenal akan kekuatannya hingga dijadikan bantalan rel kereta
saja bisa, hingga pohon cengkeh yang kita tahu bersama nilai ekonomisnya yang
luar biasa hingga mashur dimata dunia. Rimba ku terbakar kaki bukit Junjung
Sirih. Sebagai putra daerah yang lama tak melihat kampungnya tentunya ini
memilukan. Dahulu ketika aku kecil masih ku ingat ayah mengajakku untuk panen
durian di tengah rimba. Kami berjalan kaki hingga 4 jam hingga sampai di kebun
durian besan di tengah rimba. Pepohonan masih rindang, alam sejiuk, masih
kulihat baruak-baruak liar yang
berloncatan dari satu dahan ke dahan pohon lainnya. Rimba alami khas Sumatra
Barat.
Seakan
sering terjadi kebakaran hutan dan rimba ku seakan hal biasa warga hanya
menyelamatkan agar api tidak sampai ke pemukiman, kami tahu benar bersama ispa
yang membar hutan nan asri ini dengan sengaja, pembukaan lahan pertanian dan
kebun alasannya. Tapi kenapa harus membakar?, kenapa harus dimusnahkan
semuanya?. Pilihan sulit memang antar memilih antara kebutuhan ekonomi dan
kelestarian hutan. Seakan diantara keduanya harus ada yang dikorbankan. Hutan
belantara nan asri yang menyimpan kekayaan seakan tak berharga dimata para
pemababat hutan. Demi asap dapur yang mengepul dan anak yang sekolah samapai ke
pulau Jawa.
Prihatin
memang tapi inilah realitas yang kita hadapi, seakan percuma saja ketika greenpeace berteriak-teriak dan berkoar
akan penyelamatan keanekaragaman hayati, selamatkan Harimau Sumatra dan Orang
Utan, orang kampungku berada di taraf ekonomi sulit kami butuh sesuatu
mengganjal perut. Setelah kami kenyang baru bersama kita pikirkan tentang alam.
Tapi
sahabat, orang tua-tua kami dulu sering bercerita dan berpetuah tentang
falsafah adat minangkabau. Alam takambang
jadikan guru. Orang minang sejak dahulu sudah belajar bersama alam. Alam
yang mengajari kami bagaimana bertahan hidup dan alam menyediakan kami akan
unsur-unsur kehidupan. Arif kiranya bagi kita sebelum berteriak pada pemerintah
yang memegang kuasa atas negeri ini untuk menyelamatkan alam, kita mulai dengan
aksi penyelamatan dengan diri kita sendiri. Bukan dengan membakar hutan untuk
menyekolahkan anak, bukan dengan mebakar hutan agar sang istri dapat kepasar
hari ini.
Indonesia
kini memiliki pemimpin baru, bapak Presiden Jokowi Dodo yang terhormat, dengan
gaya sederhana yang arif bijaksana. Hutan kami bukan barang jualan, bukan
barang dagangan jangan nanti engkau jual pada investor asing dengan dalih
pengelolaan hutan. Sudah cukup kiranya kami sengsara dengan perusahaan tambang
di hutan kami yang mengeruk tanah membabat pohon hingga akhirnya tidak ada lagi
air tanah kami. Pesan kami pak Jokowi. Kiranya anda memang sang penyelamat yang
kami harapkan . tolong anda tegakkan kembali undang undang konservasi alam,
realisasikan janji konstitusi yang menjamin bahwa air, tanah, udara dan segala
yang menyangkut harkat orang banyak dikuasai atas negara, supaya Indonesia bertahta
atas negerinya. Janji janji yang anda sampaikan pada konstituen bukan hanya
janji surga belaka tapi kami menunggu realisasinya.
Salam
cinta anak negeri, salam cinta alam nusantara, segelintir kegelisahan hati
putra bangsa. Salam lestari

