Monday, 8 September 2014

SEPUCUK SURAT DARI KEDALAM RIMBA SUMATRA



Gema takbir bergemuruh, tanda suka cita umat Islam yang menyelesaikan ibadah puasa, kemenangan di depan mata esok hari, Hari Raya. Ini yang seharusnya dirasakan umat Islam seluruh dunia. Pemandangan berbeda aku jumpai ketika tanah kelahiranku harus terkena kepungan asap, tepat pukul 22.00 kulihat segaris merah menjalar berkijap-kijap di kaki bukit Junjung Sirih tepian danau Singkarak kabupaten Solok, Sumatra Barat, “ rimbo tapanggang, rimbo tapanggang” seru seorang gaek yang turun gunung menyuarakan pada penduduk kampung untuk waspada. Malam takbiran kami bukannya berkumpul bersama merasakan kengahatan keluarga tapi merasakan kengahatan memadamkamkan api yang kian memanas agar tidak mengenai pemukiman warga. Sudah satu bulan tidak hujan angin berhembus pun sama kuatnya menyebabkan api kian cepat menjalar, membakar punggung bukit danau Singkarak. Dari tengah kota Solok pun nampak. Tak ku lihat adanya upanya dari pasukan pemadam kebakaran menangani hal tersebut seakan sudah biasa terjadi, 
Ini ceritaku sang anak rantau yang baru tiba di kampung halaman tapi harus melihat pemandangan pilu rimba ku terbakar. Ekosistem besar begabagi jenis pohon dari kayu ulin yang terkenal akan kekuatannya hingga dijadikan bantalan rel kereta saja bisa, hingga pohon cengkeh yang kita tahu bersama nilai ekonomisnya yang luar biasa hingga mashur dimata dunia. Rimba ku terbakar kaki bukit Junjung Sirih. Sebagai putra daerah yang lama tak melihat kampungnya tentunya ini memilukan. Dahulu ketika aku kecil masih ku ingat ayah mengajakku untuk panen durian di tengah rimba. Kami berjalan kaki hingga 4 jam hingga sampai di kebun durian besan di tengah rimba. Pepohonan masih rindang, alam sejiuk, masih kulihat baruak-baruak liar yang berloncatan dari satu dahan ke dahan pohon lainnya. Rimba alami khas Sumatra Barat.
Seakan sering terjadi kebakaran hutan dan rimba ku seakan hal biasa warga hanya menyelamatkan agar api tidak sampai ke pemukiman, kami tahu benar bersama ispa yang membar hutan nan asri ini dengan sengaja, pembukaan lahan pertanian dan kebun alasannya. Tapi kenapa harus membakar?, kenapa harus dimusnahkan semuanya?. Pilihan sulit memang antar memilih antara kebutuhan ekonomi dan kelestarian hutan. Seakan diantara keduanya harus ada yang dikorbankan. Hutan belantara nan asri yang menyimpan kekayaan seakan tak berharga dimata para pemababat hutan. Demi asap dapur yang mengepul dan anak yang sekolah samapai ke pulau Jawa.
Prihatin memang tapi inilah realitas yang kita hadapi, seakan percuma saja ketika greenpeace berteriak-teriak dan berkoar akan penyelamatan keanekaragaman hayati, selamatkan Harimau Sumatra dan Orang Utan, orang kampungku berada di taraf ekonomi sulit kami butuh sesuatu mengganjal perut. Setelah kami kenyang baru bersama kita pikirkan tentang alam.
Tapi sahabat, orang tua-tua kami dulu sering bercerita dan berpetuah tentang falsafah adat minangkabau. Alam takambang jadikan guru. Orang minang sejak dahulu sudah belajar bersama alam. Alam yang mengajari kami bagaimana bertahan hidup dan alam menyediakan kami akan unsur-unsur kehidupan. Arif kiranya bagi kita sebelum berteriak pada pemerintah yang memegang kuasa atas negeri ini untuk menyelamatkan alam, kita mulai dengan aksi penyelamatan dengan diri kita sendiri. Bukan dengan membakar hutan untuk menyekolahkan anak, bukan dengan mebakar hutan agar sang istri dapat kepasar hari ini.
Indonesia kini memiliki pemimpin baru, bapak Presiden Jokowi Dodo yang terhormat, dengan gaya sederhana yang arif bijaksana. Hutan kami bukan barang jualan, bukan barang dagangan jangan nanti engkau jual pada investor asing dengan dalih pengelolaan hutan. Sudah cukup kiranya kami sengsara dengan perusahaan tambang di hutan kami yang mengeruk tanah membabat pohon hingga akhirnya tidak ada lagi air tanah kami. Pesan kami pak Jokowi. Kiranya anda memang sang penyelamat yang kami harapkan . tolong anda tegakkan kembali undang undang konservasi alam, realisasikan janji konstitusi yang menjamin bahwa air, tanah, udara dan segala yang menyangkut harkat orang banyak dikuasai atas negara, supaya Indonesia bertahta atas negerinya. Janji janji yang anda sampaikan pada konstituen bukan hanya janji surga belaka tapi kami menunggu realisasinya.
Salam cinta anak negeri, salam cinta alam nusantara, segelintir kegelisahan hati putra bangsa. Salam lestari

Thursday, 24 April 2014

Dalam Diam, Aku Mencintaimu.



Sesungguhnya yang mendatangkan rasa cinta ini, yang mendatangkan rasa kagum ini, yang memekarkan hati ini adalah dari-Nya. 
Sungguh aku hanya bisa menerimanya. 
Aku hanya bisa pasrah tertegun tak bisa mengelak atas perasaan ini padamu.
Tertegun dalam keindahan akhlakmu. 
Tertegun dalam manisnya lisanmu. 
Tertegun dalam tenangnya pandanganmu. 
Dan tertegun pula dalam kesejukan busanamu. 
Semua begitu sempurna. Sesempurna sesuai firman-Nya. 
Aku yang mengagumimu dalam diam. 
Utuh tak tersentuh. 
Seperti mentari yang menyapa bunga - bunga bermekaran. 
Tak pernah menyentuh namun cintanya terasa bagi kuntum - kuntum bunga yang sedang bermekaran itu. 
Karena aku mengagumi, maka izinkan aku tak mengusik khusyunya ibadahmu. 
Izinkan aku tak mengusik ketenangan hatimu. 
Tak mengapa aku tak bertegur sapa denganmu. 
Cukuplah bagiku menyapamu dalam doa - doaku. Cukuplah bagiku tersenyum lezat melihatmu bahagia. 
Cukuplah bagiku menyebut namamu dalam hamparan sajadahku. 
Aku yang tersentuh akhlak muliamu, Aku yang terkagum lekat dalam sikapmu. 
Mencintaimu dalam diam mungkin lebih baik bagi diriku dan dirimu. 
Lebih mulia bagi perasaanku dan perasaanmu. 
Lebih menjaga kehormatanmu. Lebih menjaga kemuliaanmu. 
Maka izinkan aku mencintaimu dalam keikhlasan karena aku tak pernah tahu apakah engkau yang tercatat dalam lauful mahfudz untukku. 
Karena aku tak pernah tahu adakah balasan darimu untukku. 
Biarlah kuasa Allah yang menggerakkan hatimu untukku. 
Bukan karena mencintaimu dengan diam aku akan menderita. 
Bukan karena mengagumimu dengan diam aku akan merana. 
Namun, ketika ku artikan cinta itu pada sisi kehadiran dan kebersamaan denganmu. 
Maka itulah penderitaan yang sesungguhnya. Aku mencintaimu dari kejauhan walaupun sungguh aku merasa sangat dekat denganmu. 
Biarlah aku dekap rapat perasaanku ini. Biarlah aku tutup rapat hingga Allah mengizinkan pertemuan kita. 
Namun jika memang engkau bukan tercatat untukku. Jika memang engkau hanya hiasan duniaku yang sementara,  sungguh aku yakin Allah akan menghapus cinta dalam diamku padamu. 
Allah akan menghilangkan perasaanku untukmu. 
Dia akan memberikan rasa yang lebih indah pada orang yang paling tepat. 
Begitulah kuasa-Nya. Begitulah zat yang membolak - balikkan hati hamba-Nya.
"Ketika aku tak lagi terkagum denganmu, maka pahamilah jejakku.. Karena mungkin, aku pernah menulis tentangmu dan menyapa namamu dalam setiap untaian doaku.."
Dalam Diam,

- Ganis Chiquita larissa-